Blog

Di dalam blog ini tersedia pengumuman dan informasi terbaru.

JKI Admin

JKI Admin

Sabtu, 28 Maret 2026 09:22

29.03.2026 Gottesdienst / Ibadah

Bahasa Indonesia

Datum: Sonntag, der 29. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Predigttext aus

Markus 14, 3-9

Jesus war in Betanien zu Gast; da kam eine Frau mit einem Alabastergefäß voll sehr teurem Duftöl. 4 Einige wurden ärgerlich und sagten: „Warum diese Verschwendung?“ 5 „Man hätte es teuer verkaufen und den Armen geben können.“ Und sie fuhren die Frau an. 6 Jesus aber sagte: „Lasst sie in Ruhe. Sie hat etwas Gutes getan.“ 7 „Arme habt ihr immer bei euch; ihnen könnt ihr jederzeit helfen. Mich aber habt ihr nicht immer.“ 8 „Sie hat getan, was sie konnte: Sie hat meinen Leib im Voraus für das Begräbnis gesalbt.“ 9 „Wahrlich: Wo immer das Evangelium gepredigt wird, wird man auch von ihr erzählen – zur Erinnerung an sie.“

(frei nach Mk 14,3-9)


Optionaler Live Stream:

Predigt: Pfarrerin Junita Rondonuwu-Lasut (Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Musik: Sonya Mboeik

Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag - Palmarum

Liturgie: Priska Balondo
Kindergottesdienst: Viktor Aritonang & Ribkah Magdalena
Schriftlesung: Desri Situmorang
Medien Technik: Yosua Rondonuwu
Abkündigung: Aditya Dolontelide
Schlüsseldienst: Pfarrerin Junita Rondonuwu-Lasut
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gruppe Sukacita

Liturgie
Unsere letzten Predigten
Gottesdienst Playlist @YouTube


Tanggal: Minggu, 29 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Teks Khotbah dari

Markus 14, 3-9

Yesus berada di Betania; seorang perempuan datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi yang sangat mahal. 4 Beberapa orang menjadi kesal dan berkata: “Mengapa minyak wangi ini disia-siakan?” 5 “Seharusnya bisa dijual mahal dan uangnya diberikan kepada orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu. 6 Tetapi Yesus berkata: “Biarkan dia. Ia telah melakukan sesuatu yang baik.” 7 “Orang miskin selalu ada padamu, dan kapan saja kamu mau, kamu bisa menolong mereka; tetapi Aku tidak selalu ada.” 8 “Ia melakukan apa yang dapat ia lakukan: ia mengurapi tubuh-Ku sebagai persiapan untuk penguburan.” 9 “Sesungguhnya: di mana pun Injil diberitakan, apa yang ia lakukan ini akan disebut juga sebagai peringatan akan dia.”

(parafrasa bebas dari Mrk 14:3-9)


Optional Live Stream:

Khotbah: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main)
Musik: Sonya Mboeik

Pelayanan sukarela pada hari Minggu - Palmarum

Liturgi: Priska Balondo
Ibadah Anak: Viktor Aritonang & Ribkah Magdalena
Pembacaan Alkitab: Desri Situmorang
Media Teknik: Yosua Rondonuwu
Berita Jemaat: Aditya Dolontelide
Kunci: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Persiapan Pertemuan Jemaat: Kelompok Sukacita

Liturgi
Khotbah yang terakhir
Playlist Ibadah @YouTube
Kamis, 19 Maret 2026 17:58

22.03.2026 Gottesdienst / Ibadah

Bahasa Indonesia

Datum: Sonntag, der 22. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Predigttext aus

Markus 10, 35-45

Da gingen zu ihm Jakobus und Johannes, die Söhne des Zebedäus, und sprachen zu ihm: Meister, wir wollen, dass du für uns tust, was wir dich bitten werden.  36 Er sprach zu ihnen: Was wollt ihr, dass ich für euch tue?  37 Sie sprachen zu ihm: Gib uns, dass wir sitzen einer zu deiner Rechten und einer zu deiner Linken in deiner Herrlichkeit.  38 Jesus aber sprach zu ihnen: Ihr wisst nicht, was ihr bittet. Könnt ihr den Kelch trinken, den ich trinke, oder euch taufen lassen mit der Taufe, mit der ich getauft werde?  39 Sie sprachen zu ihm: Ja, das können wir. Jesus aber sprach zu ihnen: Ihr werdet zwar den Kelch trinken, den ich trinke, und getauft werden mit der Taufe, mit der ich getauft werde; 40 zu sitzen aber zu meiner Rechten oder zu meiner Linken, das zu geben steht mir nicht zu, sondern das wird denen zuteil, für die es bestimmt ist.  41 Und als das die Zehn hörten, wurden sie unwillig über Jakobus und Johannes.  42 Da rief Jesus sie zu sich und sprach zu ihnen: Ihr wisst, die als Herrscher gelten, halten ihre Völker nieder, und ihre Mächtigen tun ihnen Gewalt an.  43 Aber so ist es unter euch nicht; sondern wer groß sein will unter euch, der soll euer Diener sein;  44 und wer unter euch der Erste sein will, der soll aller Knecht sein.  45 Denn auch der Menschensohn ist nicht gekommen, dass er sich dienen lasse, sondern dass er diene und sein Leben gebe als Lösegeld für viele.

(Lutherbibel 2017)


Optionaler Live Stream:

Predigt: Pfrin. Dr. Maibritt Gustrau (Evangelisches Stadtdekanat Frankfurt und Offenbach)
Musik: Paula Sabrina

Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag - Judika

Liturgie: Lektorin Inke Rondonuwu
Schriftlesung: Crisna Purwanto
Medien Technik: Jens Balondo
Abkündigung: Marsha Marcelina
Schlüsseldienst: Aditya Dolontelide
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gemeinsam

Liturgie
Unsere letzten Predigten
Gottesdienst Playlist @YouTube


Tanggal: Minggu, 22 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Teks Khotbah dari

Markus 10, 35-45

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" 36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" 37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." 38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" 39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." 41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

(Alkitab Terjemahan Baru 1974)


Optional Live Stream:

Khotbah: Pdt. Dr. Maibritt Gustrau (Dekenat Kota Gereja Protestan Frankfurt dan Offenbach)
Musik: Paula Sabrina

Pemberitahuan Pelayanan sukarela pada hari Minggu - Judika

Liturgi: Lektor Inke Rondonuwu
Pembacaan Alkitab: Crisna Purwanto
Media Tehnik: Jens Balondo
Berita Jemaat: Marsha Marcelina
Kunci: Aditya Dolontelide
Persiapan pertemuan Jemaat: Bersama

Liturgi
Khotbah yang terakhir
Playlist Ibadah @YouTube

Bahasa Indonesia

Sebuah rekomendasi film istimewa: “Na Willa” – film Indonesia yang menyentuh tentang masa kecil, keberagaman, dan hidup bersama

Dengan sukacita kami ingin memperkenalkan sebuah film Indonesia yang istimewa: “Na Willa”.

Di balik karya ini ada juga Reda Gaudiamo, seorang sahabat lama yang masih kami kenang dengan hangat. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, dalam rangka pameran buku, ia pernah mengunjungi jemaat kami dan tampil bersama Ari Malibu, yang telah berpulang terlalu cepat, di Alte Nikolaikirche kami. Itu adalah momen yang indah, penuh musik, kehangatan, dan perjumpaan, yang sampai hari ini masih tinggal di hati kami.


Karena itu, kami sangat senang sekarang dapat ikut memperkenalkan karya film ini.

“Na Willa” adalah film keluarga Indonesia dari Visinema Studios, sebuah adaptasi live-action dari buku pertama dalam trilogi “Na Willa” karya Reda Gaudiamo. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy. Film ini mulai tayang hari ini di Indonesia, pada 18 Maret 2026, dan berlatar di Surabaya pada tahun 1960-an.

Tokoh utamanya adalah Na Willa, seorang anak perempuan sekitar enam tahun yang tinggal di sebuah gang kecil di pinggir kota. Film ini menceritakan kehidupan sehari-harinya secara konsisten dari sudut pandang seorang anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu. Karena itu, hal-hal sederhana – tetangga, keluarga, sekolah, pertanyaan tentang manusia dan perbedaan – terasa hampir seperti sesuatu yang ajaib. Ini bukan film aksi besar, melainkan film yang hangat dan halus tentang masa kecil, keluarga, keberagaman, dan proses bertumbuh.

Yang sangat penting juga adalah identitas multikultural tokoh utamanya. Na Willa mempunyai ibu dari Nusa Tenggara Timur dan ayah keturunan Tionghoa. Dari situ muncul pertanyaan tentang rasa memiliki, perbedaan, dan cara masyarakat memberi penilaian kepada seseorang. Karya sastranya sendiri juga digambarkan sebagai karya yang menampilkan pengalaman Tionghoa-Indonesia, rasisme sehari-hari, dan keberagaman budaya.

Di situlah letak kekuatan film ini. Film ini tidak melihat tema-tema itu dari atas, tetapi dengan mata yang terbuka dan hati seorang anak. Karena itu, “Na Willa” mengajak kita melihat dunia sekali lagi dari sudut pandang anak kecil: penuh rasa ingin tahu, jujur, rapuh, dan sekaligus penuh kekaguman.

Karya aslinya juga secara jelas menunjukkan bahwa Na Willa hidup di lingkungan yang beragam dan punya rasa ingin tahu terhadap perbedaan agama. Itulah sebabnya film ini terasa sangat kuat: film ini menunjukkan betapa sejak dini anak-anak sudah berhadapan dengan pertanyaan tentang agama, identitas, etnis, dan perbedaan – dan betapa terbuka serta langsungnya mereka memandang dunia, sebelum orang dewasa memberi mereka kategori-kategori yang tetap.

Film ini dibuat berdasarkan karya Reda Gaudiamo. Sutradaranya adalah Ryan Adriandhy. Para pemainnya antara lain Luisa Adreena, Irma Rihi, Junior Liem, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy. Dari situ juga terlihat betapa banyak orang kreatif yang ikut ambil bagian dalam proyek film yang istimewa ini.


Bagi kami juga sebagai Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main), film ini menyentuh tema yang penting. Jemaat kami sudah bertahun-tahun hidup dari perjumpaan, keberagaman budaya, iman dalam kebersamaan, dan semangat membangun jembatan di antara orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Khususnya di kota internasional seperti Frankfurt dan dalam pelayanan gereja kami, pertanyaan bagaimana kita memahami perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan, sangatlah penting.

Dalam video singkat berikut ini, Reda sendiri dan beberapa orang lain menceritakan lebih jauh tentang kisah “Na Willa” dan mengapa cerita ini jauh melampaui sekadar film anak-anak. Terlihat dengan jelas betapa berharganya kisah ini bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang tua, keluarga, dan masyarakat kita.


Karena itu, kami dengan senang hati ingin merekomendasikan “Na Willa”.

Kami sangat bersyukur karena di balik karya ini ada Reda Gaudiamo, seorang seniman yang punya kedekatan dengan jemaat kami. Kunjungannya waktu itu bersama Ari Malibu tetap menjadi tanda yang berharga bagi kami bahwa musik, seni, bahasa, dan perjumpaan dapat menghubungkan manusia melampaui batas, budaya, dan generasi.

Kiranya “Na Willa” dapat menyentuh banyak hati dan mengajak kita untuk kembali memikirkan masa kecil, keberagaman, agama, dan hidup bersama sebagai sesama manusia.

Bahasa Indonesia

Datum: Sonntag, der 15. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Lutherkirche, Frankfurt am Main / Nordend-Ost

Predigttext aus

Johannes 12, 20-24

Es waren aber einige Griechen unter denen, die heraufgekommen waren, um anzubeten auf dem Fest.  21 Die traten zu Philippus, der aus Betsaida in Galiläa war, und baten ihn und sprachen: Herr, wir wollen Jesus sehen.  22 Philippus kommt und sagt es Andreas, und Andreas und Philippus sagen’s Jesus.  23 Jesus aber antwortete ihnen und sprach: Die Stunde ist gekommen, dass der Menschensohn verherrlicht werde.  24 Wahrlich, wahrlich, ich sage euch: Wenn das Weizenkorn nicht in die Erde fällt und erstirbt, bleibt es allein; wenn es aber erstirbt, bringt es viel Frucht.

(Lutherbibel 2017)


Optionaler Live Stream:

Predigt: Pfarrerin Junita Rondonuwu-Lasut (Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Musik: Paula Sabrina (Piano) / Leandro Christian (Orgel)

Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag – Lätare

Liturgie: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut
Schriftlesung: Nathania Sianturi
Abendmahl: Kirchenvorstand
Medien Technik: Jens Balondo
Abkündigung: Aditya Dolontelide
Schlüsseldienst: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gruppe Sukacita

Liturgie
Unsere letzten Predigten
Gottesdienst Playlist @YouTube


Folgende Vorbereitungen können Sie für die Teilnahme zum Abendmahl von zu Hause aus treffen.

Vorbereitungen zum Abendmahl:

Glas und Wein:
1. Bereiten Sie Gläschen entsprechend der Anzahl der Abendmahlteilnehmer vor. Wenn keine Gläschen vorhanden sind, können Sie auch normale Trinkwassergläser verwenden.
2. Bereiten Sie den Wein vor. Optional können Sie auch einen Traubensaft oder sonstige Säfte verwenden.
3. Stellen Sie alles auf dem Tisch bereit.

Brot:
1. Das Brot kann Toast oder auch normales Brot sein.
2. Das Brot kann in rechteckige Stückchen geschnitten oder zerbrochen werden.

Abendmahltisch:
Stellen Sie alles, was Sie für das Abendmahl brauchen, auf den Tisch. Wenn vorhanden, können Sie ebenfalls Kerzen und einen Kreuz aufstellen.


Tanggal: Minggu, 15 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Lutherkirche, Frankfurt am Main / Nordend-Ost

Teks Khotbah dari

Yohanes 12, 20-24

Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus." 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. 23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

(Alkitab Terjemahan Baru 1974)


Optional Live Stream:

Khotbah: Pendeta Junita Rondonuwu-Lasut (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main)
Musik: Paula Sabrina (Piano) / Leandro Christian (Orgel)

Pemberitahuan Pelayanan pada hari Minggu – Lätare

Liturgi: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Pembacaan Alkitab: Nathania Sianturi
Perjamuan Kudus: Majelis Jemaat
Media Tehnik: Jens Balondo
Berita Jemaat: Aditya Dolontelide
Kunci: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Persiapan pertemuan Jemaat: Grup Sukacita

Liturgi
Khotbah yang terakhir
Playlist Ibadah @YouTube


Dibawah ini petunjuk untuk Perjamuan Kudus dirumah pada hari Minggu

Perlengkapan yang disiapkan

Gelas dan Anggur:
1. Siapkan sloki sesuai dengan jumlah peserta perjamuan. Jika tidak ada sloki, pakai gelas weine. Jika tidak ada gelas weine, boleh pakai gelas air minum biasa.
2. Siapkan anggur (Wein). Jika tidak ada Wein boleh gunakan trauben saft. Jika tidak ada traubensaft boleh pakai saft apa saja.
3. Tuangg Weine atau saft kedalam sloki atau gelas secukupnya.

Roti:
1. Roti boleh roti Toast atau roti biasa.
2. Roti boleh dipotong segi empat teratur, atau dicabik (dipecahkan).

Meja Perjamuan:
Taruh peralatan perjamuan Kudus diatas meja. Pasang lilin, khiasan salib (kalau ada).



Bahasa Indonesia

Datum: Sonntag, der 08. März 2026
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Die Geschichte von Frau Jato: Die Last religiöser Verfolgung und die Kraft des Glaubens

In diesem Gottesdienst hören wir die Geschichte von Frau Jato, einer christlichen Mutter aus Nordnigeria, die im Schatten religiöser Verfolgung lebt. Mit dem Herzen einer Mutter erzählt sie von Angst, innerem Ringen, aber auch von Hoffnung und von der Kraft des Glaubens, die sie jeden Tag trägt, wenn sie ihre Tochter zur Schule schickt. Diese Geschichte zeigt uns, dass das Leben im Glauben nicht immer leicht ist. Inmitten von Bedrohung, Gewalt und Unsicherheit hält Frau Jato an der Liebe Christi fest. Sie entscheidet sich gegen Hass und für Gebet, Vergebung und Hoffnung. Durch ihr Zeugnis werden wir daran erinnert, dass Gott seine Menschen nicht verlässt. Jesus lädt uns ein, mit allem, was uns belastet, zu ihm zu kommen. In ihm finden wir Trost, innere Ruhe und neue Kraft, auch in schweren Zeiten. Die Geschichte von Frau Jato ruft uns zugleich dazu auf, für Menschen zu beten, die wegen ihres Glaubens verfolgt werden, und in jedem Menschen das Ebenbild Gottes zu erkennen. So werden wir ermutigt, im Glauben standhaft zu bleiben, in der Hoffnung festzuhalten und in der Liebe zu wachsen.

https://weltgebetstag.de/


Optionaler Live Stream:

Predigt: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut (Ev. Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main / Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main)
Musik: Leandro Christian

Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag - Okuli

Liturgie: Riany Lengkong + Frauenkreis
Schriftlesung: Rita Kreißl
Medien Technik: Dayvan Foenale
Abkündigung: Jens Balondo
Schlüsseldienst: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut
Vorbereitungen Gemeindetreff: Gruppe Damai Sejahtera

Liturgie
Weitere Informationen zum Weltgebtstag der Frauen - Nigeria 2026
Unsere letzten Predigten
Gottesdienst Playlist @YouTube


Tanggal: Minggu, 08 Maret 2026
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Kisah Ibu Jato: Beban Penganiayaan Agama dan Kekuatan Iman

Dalam ibadah ini, kita akan mendengarkan kisah Ibu Jato, seorang ibu Kristen dari Nigeria utara yang hidup di tengah bayang-bayang penganiayaan agama. Dengan hati seorang ibu, ia menceritakan ketakutan, pergumulan, tetapi juga pengharapan dan kekuatan iman yang ia pegang setiap hari ketika melepas anaknya pergi ke sekolah. Kisah ini mengajak kita untuk melihat bahwa hidup dalam iman tidak selalu mudah. Di tengah ancaman, kekerasan, dan rasa takut, Ibu Jato tetap berpegang pada kasih Kristus. Ia belajar untuk tidak membalas dengan kebencian, melainkan tetap hidup dalam doa, pengampunan, dan pengharapan. Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Yesus memanggil kita untuk datang kepada-Nya dengan segala beban hidup kita. Di dalam Dia, kita menemukan kekuatan, ketenangan, dan keberanian untuk tetap berjalan dalam kasih, bahkan di tengah situasi yang sulit. Kisah Ibu Jato juga mengajak kita untuk berdoa bagi mereka yang mengalami penganiayaan karena iman, serta belajar melihat setiap manusia sebagai ciptaan Allah yang berharga. Dengan demikian, kita diajak untuk semakin setia dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan hidup dalam kasih. Falls du möchtest, formuliere ich dir daraus auch noch eine etwas kürzere Web-Ankündigung oder eine feierlichere Version für den Gottesdienstablauf.

https://worlddayofprayer.net/


Optional Live Stream:

Khotbah: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main / Ev. Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Musik: Leandro Christian

Pemberitahuan Pelayanan sukarela pada hari Minggu - Okuli

Liturgi: Riany Lengkong + Persekutuan Perempuan
Pembacaan Alkitab: Rita Kreißl
Media Tehnik: Dayvan Foenale
Berita Jemaat: Jens Balondo
Kunci: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut
Persiapan pertemuan Jemaat: Kelompok Damai Sejahtera

Liturgi
Informasi lebih lanjut mengenai Hari Doa Sedunia Perempuan - Nigeria 2026 (EN)
Khotbah yang terakhir
Playlist Ibadah @YouTube
Cookies make it easier for us to provide you with our services to EIKG / JKI. With the usage of our services you permit us to use cookies. Your settings will be saved for 365 days.